Beranda / SEJARAH / BERDIRINYA ASRAMA ILLIYYIN PASCA AMTSILATI

BERDIRINYA ASRAMA ILLIYYIN PASCA AMTSILATI

 Delapan belas tahun yang lalu, tepatnya pada tiga tahun setelah kitab amtsilati ditulis, pasca amtsilati disebut sebagai program atau metode lanjutan pendalaman sekaligus penerapan amtsilati untuk membahas kitab kuning…

  1. Sejarah tercetusnya pasca amtsilati

Pada musim haji tahun 2004, ada seorang muqimin  di kota mekkah kelahiran Madura yakni alm. Bpk. Haji Hafiduddin, yang datang menemui abah taufiqul hakim di kota Madinah, yang ternyata bapak haji Hafiduddin sendiri mempunyai anak yang dipondokkan di darul falah amtsilati bangsri jepara. Beliau (bpk. Haji Hafiduddin) bertanya kepada abah yai mengenai pendidikan lanjutan setelah amtsilati “setelah lulus amtsilati, lalu anak dikemanakan? Dimodel gontor atau salaf atau bagaimana?” Tanya beliau pada abah yai

 Namun pertanyaan itu belum bisa terjawab oleh abah yai, mengingat kitab amtsilati saat itu masih banyak yang harus direvisi, sementara kegiatan abah yai saat berada di mekkah dan madinah masih begitu padat. seminggu sebelum pulang dari haji, abah yai mendapatkan gambaran gambaran samar mengenai pemikiran pendidikan lanjutan amtsilati. Dari hasil mujahadah beliau seperti pada pengalaman munculnya amtsilati, akhirnya tersusunlah metode pasca amtsilati sebagaimana adanya.

Berangkat dari upaya mujahadah beliau mengenai kelanjutan belajar santri yang sudah lulus amtsilati, tercetuslah program pasca amtsilati melalui tangan dingin ustadz ahmad syibawaih bersama ustadz kholilurrohman setelah mendapat mandat dari abah yai untuk menerapkan program pasca dengan santri amtsilati yang sudah lulus sebagai pesertanya.       

  • Pasca dalam satu dekade

Tanggal 17 april tahun 2004, ustadz ahmad syibawaih bersama ustadz kholilurrohman dan ustadz Fattah menggelar pengajian kitab tuhfatut thulab perdana untuk program pasca amtsilati. Tepat pada minggu berikutnya,yakni  tanggal 23 april 2004 kitab fathul wahhab turut dikaji.

Konsep pasca amtsilati pada mulanya dirancang untuk ditempuh dalam kurun waktu 2,5 tahun yang secara programnya meliputi fan fiqih, hadits, tasawwuf, tafsir, dan komunikasi. Meskipun pengajian pasca sudah dibentuk dan berjalan, tapi saat itu belum terdapat kejelasan mengenai program pasca amtsilati sehingga banyak santri yang kemudian perlahan memutuskan untuk boyong. Dengan jumlah awal santri pasca waktu itu berjumlah tujuh belas orang, lima diantaranya diangkat menjadi pengurus atau pengajar untuk membantu ustadz syibawaih dalam proses pembelajaran, lima orang tersebut antara lain adalah, ustadz Muhammad zaini, ustadz alfan nur ‘ain, ustadz syihabuddin najih, ustadz ahmad khanifum mushoffa, dan ustadz choirul anam, sedangkan 12 santri yang lain bertahan sampai wisuda.

Di tahun 2006, abah yai taufiqul hakim mengarang kitab mukhtasor fiqh dari referensi kitab tuhfatut thulab yang terbagi menjadi sepuluh jilid , thoharoh satu jilid, ubudiyyah tiga jilid, muamalah, munakahat, dan jinayat masing masing dua jilid. Setelah abah mengarang kitab mukhtasor fiqh, program pasca amtsilati mulai terstruktur dan mengalami kejelasan.

Pertengahan tahun 2006, ustadz Muhammad zaini diangkat menjadi kepala daerah  pasca pertama bersamaan dengan dilantiknya ketua pondok ketiga setelah ustadz ridwan dan ustadz mushonnif, yakni ustadz malik rai.

Seiring berjalannya waktu, tujuh  belas orang angkatan pertama pasca amtsilati menyelenggarakan wisuda perdananya pada tanggal 27 juni tahun 2007, nama nama assabiqunal awwalun pasca amtsilati diantaranya adalah ustadz zaimuddin ahya, ustadz fathul mubin, ustadz misbahul cholisin, ustadz agus mumtazun, ustadz miftahuddin, ustadz zainul muttaqin, ustadz nailul Amani, ustadz eka rahmawan, ustadz athoillah aziz, ustadz aziz mursyid, dan ustadz arinal haq zakiyyat, lima orang diantaranya adalah para pengurus yang diangkat diawal periode. Pada tahun yang sama, ustadz choirul anam menggantikan ustadz zaini menjadi kepala daerah pasca amtsilati selanjutnya.

Pada bulan November tahun 2007, abah yai memutuskan untuk mengalihkan program komunikasi dari tubuh pasca ke dalam skala yang lebih luas, yakni membentuk asrama komunikasi yang kemudian diberi nama markazullughoh  guna memaksimalkan kemampuan santri dalam berbahasa.

  • Madin pasca amtsilati

Tahun 2008, ustadz zaimuddin ahya maju sebagai kepala daerah pasca amtsilati bersamaan dengan ustadz umaruddin yang ditunjuk untuk menggantikan ustadz malik rai sebagai ketua pondok saat itu. Ditahun yang sama, abah yai memanggil ustadz sybawaih dalam rangka memberikan kitab tambahan sekitar dua puluh kitab untuk diterapkan pada program pasca amtsilati, seperti kitab fathul muin, fathul qorib, dll.

Penghujung tahun 2008, secara sistem pembelajaran pasca amtsilati antara putra dan putri yang awalnya masih terpisah mulai dikoordinasi dalam satu pimpinan kepala madrasah diniyah atau (madin). Karena kekurangan jumlah pengajar di pasca, abah berinisiatif untuk mengambil guru dari luar pondok. Mengenai alasan lain ditambahnya guru luar sebagai pengajar di madin adalah supaya lebih membantu dalam pengembangan ilmu di pasca.

Di tahun itu, izin operasional lembaga pendidikan madin pasca amtsilati, mulai diajukan ke pihak kementrian agama, mengingat pengalaman dari salah satu lulusan pasca, yakni ustadz miftahuddin yang ingin melanjutkan kuliah setelah lulus pasca, sedangkan pada saat itu ijazah pasca belum dilegalisir. Untuk itu, karena madin pasca amtsilati belum tercantum sebagai lembaga pendidikan, maka selanjutnya madin pasca amtsilati mulai mengurusi izin operasional supaya madrasah diniyyah pasca amtsilati terdaftar serta memiliki status legalisir ijazah yang setara dengan madrasah Aliyah 6 tahun.

  • Terbentuknya organisasi pasca

Pada tahun 2011, lewat sentuhan tangan ustadz Arinal Haq Zakiyyat ketika kepala daerah pasca berada di bawah kepemimpinan ustadz khanifum mushoffa, beliau mempelopori berdirinya ITQ (idaroh taqdimil qiroah) yang bergerak di bidang setoran wajib santri pasca di setiap malam. bersamaan dengan terbentuknya induk organisasi pasca amtsilati atau (oscamts) yang pertama diketuai oleh ustadz Hadi Aninul yaqin.

 juga disusul dengan terbentuknya organisasi PFA atau (pasca football association) ditahun 2011, dikarenakan belum adanya kompetisi olahraga terutama sepakbola

Sebelumnya pada tahun 2010, organisasi kebersihan atau (orkes) didirikan berdasarkan latar belakang banyaknya santri pasca yang izin menjadi abdi ndalem. Kemudian ustadz arinal berinisiatif mendirikan organisasi yang bergerak di ranah kebersihan lingkungan.

Kemudian di tahun 2013 awal, dimasa kepala daerah ustadz misbahul munir, atas arahan ustadz arinal haq zakiyyat, dibentuklah tiga organisasi baru, yakni Lansahaba, Fana, dan NA. Lansahaba yang bergerak di bidang jurnalistik, Fana di bidang kesenian, dan NA di bidang bahtsul masail.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *